All About Insanity, Stupidity and Tequilla
Mittwoch, Mai 12, 2004
A Late Article in Sinar Harapan, March 2003 - gak papa deeeh... hehe
”The Dream of Indonesia” Pukau Masyarakat Wina
WINA – Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Austria, sukses menggelar malam kebudayaan bertajuk ”The Dream of Indonesia” di Wina pada minggu terakhir bulan Maret lalu. Itu terlihat dari antusiasme para hadirin, yang sebagian besar adalah kalangan diplomatik dan orang asing di Wina, dalam memuji dan mengagumi kekayaan budaya Indonesia. Lebih 500 hadirin menyaksikan acara yang diselenggarakan PPI Austria dan disponsori oleh KBRI Wina, VA TECH, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi yang banyak memiliki proyek-proyek besar di Indonesia, dan Wien Kultur (Badan Kebudayaan Wina). Selama kurang lebih tiga jam para hadirin dibawa ke alam Indonesia dengan menampilkan gamelan Bali, Sunda dan Jawa, kolintang, pencak silat, dan tarian-tarian tradisional berbagai daerah di Indonesia.
Termasuk mengisi acara adalah para penari dari sanggar tari Gema Puspa Nusantara (GPN) Wina. Kelompok ini diasuh oleh Mira Soerjanatamihardja dan Mamat Rachmat. Para pemuda-pemudi Indonesia di Austria menyajikan kombinasi tarian dan gamelan nan harmonis. Namun, para pemain gamelan dan penari-penarinya tidak hanya berasal dari Indonesia. PPI Austria mendatangkan tiga mahasiswa dari Innsbruck yang memang sedang mendalami gamelan. Seluruh pendekar group pencak silat yang dipimpin oleh Alexander Stegbauer pada malam itu pun berasal dari Austria. Graciela López, penari asal Mexico yang pernah tinggal di Bali selama dua tahun untuk mempelajari tarian Indonesia juga memeriahkan acara. Bahkan tiga pelajar dari sekolah ”Billroth Gymnasium”, Wina juga tampil mebawakan Tari Piring.
Bahkan, para pengunjung pada malam itu juga boleh mencicipi hidangan Indonesia, walau tidak gratis. ”Makanannya terjual habis,” ujar Mutiara Suwandi, anggota panitia yang mengurus konsumsi.
Puncak acara adalah Tari Saman, dan untuk kesekian kalinya para penonton terkagum-kagum oleh keserempakan dan kedinamisan tarian asal Aceh ini. Penonton seakan tidak ingin berhenti bertepuk tangan diakhir tarian ini.
Para penonton akhirnya meninggalkan ruangan acara dengan diiringi lambaian tangan para peformers dan lagu ”Gelang Sipatu Gelang” dimainkan oleh pemain kolintang. Beberapa pengunjung yang ditanya mengaku bahwa mereka belum pernah menyaksikan sesuatu yang begitu memukau dan seindah seperti pada malam itu.
Bila tujuan malam budaya itu untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia, maka sasaran itu tercapai. PPI Austria berharap kegiatan ini dapat membantu memperbaiki nama Indonesia yang selama ini ”melorot” oleh pengaruh berbagai macam krisis di Indonesia. ”Kami ingin orang lain tahu, bahwa bangsa Indonesia juga memiliki kultur dan budaya yang indah yang bisa dibanggakan, tidak hanya rusuhnya saja,” tutur Havleoni Revinda, salah seorang panitia. ”Saat ini Indonesia harus banyak mempromosikan diri agar nama baik kita kembali seperti semula. Satu-satunya cara yang kami, pemuda-pemudi di sini, tahu adalah melalui budaya Indonesia,” lanjutnya.
PPI Austria, yang beranggota 35 mahasiswa, diketuai oleh Feraldi Zahir, mahasiswa jurusan ilmu komputer, didirikan dengan tujuan untuk mempersatukan pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berada di Austria, dalam satu wadah kegiatan di luar sekolah/kampus. Walau kelompok ini kecil, mereka berhasil merealisasikan ”The Dream of Indonesia”. (pr/xha) Copyright © Sinar Harapan 2003
posted by Apink a.k.a. Bubbzy
at 11:06:13 AM |
|
Profile
Recent Posts
The Girl lives in Vienna and misses Indonesia terribly
Archives
Friends
Credits



|